Jumat, 25 Mei 2012

Ababil kemudian Alay

Ababil kemudian Alay (1)
ketika sewaktu remaja tak punya pegangan hidup - bisa jadi karena sewaktu kanak2 tak pernah ngaji - maka mereka kemudian menjadi remaja2 yang kehilangan arah - jiwa mereka sangat labil - terombang2 ambing ditengah ombak kehidupan - kadang terdampar di pantai keterpurukan - kadang tenggelam di tengah lautan kemaksiatan
setelah dewasapun mereka akan menjadi manusia2 bertopeng - mereka tak pernah menunjukkan jati diri sejatinya - mereka selalu melebih2kan segala penampilannya - mereka bahkan telah berbohong pada diri sendiri - sampai2 mereka lupa siapa dirinya - siapa sanak saudaranya - akhirnya mereka merasa sendiri bila tak mengikuti trend teman2 palsunya - sebegitu rapuh jiwanya

Ababil kemudian Alay (2)
ketika kutanya pada segerombol anak muda yang berpakaian serba hitam tapi agak kumel - rambutnya ditata dengan aneka gaya dan aneka warna - bila kulihat sepatunya yang hitam, celananya yang hitam, dan kaos hitamnya : semua bermerk mahal
setelah kami berbincang sejenak - ternyata mereka itu bukan anak2nya orang nggak punya - bahkan ada yang orang tuanya adalah tokoh masyarakat dan pejabat tinggi - tetapi mereka bosan dan bahkan benci dengan segala macam fasilitas yang merela terima - bahkan mereka merasa tak menemukan kedamaian bila sedang dirumah
kata mereka - sejak kecil diasuh oleh pembantu - meski semua kebutuhan dituruti tetapi tak ada sentuhan kasih sayang di dalamnya
(kami lebih damai di jalanan om - disini banyak saudara yang menyayangiku - meski kami harus berjuang untuk mendapatkan sesuap nasi - tapi rasanya lebih tenang dan bahagia)

Ababil kemudian Alay (3)
aku setuju pada orang2 di pedalaman nun jauh di timur sana - mereka bilang begini : dokter itu tidak pernah bisa menyembuhkan - mereka itu bisanya cuman mengobati - beda sama dukun yang berani berjanji untuk menyembuhkan segala macam penyakit
sementara kakak sepupuku yang juga dokter - dia bilang pernah punya pengalaman yang hampir serupa dengan pasiennya yang selalu minta disuntik setiap kali periksa ke dia - begini katanya : dokter ini bagaimana - aku ini datang kesini mau periksa kok malah ditanya sakit apa - setelah itu aku hanya dikasih secarik kertas lalu disuruh bayar - suntiklah aku dokter, biar sakitku ini cepat sembuh
lebih ababil lagi ada temanku dokter yang ternyata alay - bayangkan : dia pucat pasi, lemas dan hampir muntah2 saat istrinya sedang melahirkan putra pertamanya ................

Ababil kemudian Alay (4)
memang benar kalau manusia itu diciptakan dengan salah satu sifat dasarnya adalah cenderung menghamba pada nafsu
kuman di seberang lautan tampak - gajah di pelupuk mata tak tampak
apalagi setelah didukung oleh slogan yg mengatasnamakan Hak Azasi Manusia
konsep inilah yang membuat segala sesuatu menjadi tidak jelas
LABIL ABIS
itulah sebabnya Islam mengajarkan segala kebaikan harus dimulai dari diri sendiri
itulah sebabnya Islam mengajarkan agar sholat dengan khusuk untuk mencegah diri dari perbuatan yang keji dan menjijikkan
itulah sebabnya Islam mengajarkan Amar Ma'ruf Nahi' munkar
saling mengingatkan dalam kebenaran dan saling mengingatkan dalam kesabaran
agar tak ada yang ALAY : arogan dan berlebihan dengan standar ganda

Ababil kemudian Alay (5)
awalnya memang mendapatkan hidayah - rajin sholat berjamaah di masjid
belakangan mulai terlihat ABABIL - kunci masjid dia yang pegang - setiap kali masuk waktu sholat dia yang harus adzan - beberapa kesempatan dia mulai berani mendahului yang lain untuk menjadi imam sholat - mulai memanjangkan jenggot - mulai mengganti sarung dan kopyah dengan gamis dan sorban - setiap ada acara kampung pasti mendahului yang lain untuk duduk di paling depan - serta beberapa waktu yang lalu kabarnya mulai bertengkar dengan istrinya gara2 gak mau disuruh pake cadar - anaknyapun mulai tak menyukainya karena HP-nya disita, gak boleh naik motor saat kuliah dan gak boleh lihat televisi
akhirnya kini beliau jauh lebih sering di masjid dan jarang pulang ke rumah - bagiku se itu tergolong ALAY

Ababil kemudian Alay (6)
AKU ADALAH SANG ABABIL - yaitu disaat aku sekejab melupakan Allohku
saat demikian aku merasa bila semua keberhasilan adalah karena semata2 hasil usahaku yang gigih dan cerdas
saat demikian aku merasa bila semua orang lain sangat bodoh dan aku merasa bertanggung jawab untuk membuat mereka pandai
kalau Bukan aku siapa lagi yang harus mengurus mereka
AKU ADALAH SANG ALAY - yaitu disaat aku merasa Alloh begitu dekat denganku
terlihatlah semua kesalahan orang lain dengan nyata dan aku merasa berkewajiban untuk meluruskannya
terkesan akulah tangan kanan Alloh - semua apa yang kukatakan adalah kata2 Alloh - makanya menurutku menjadi setara dengan AlQur'an - semua apa yang aku lakukan adalah atas kehendak Alloh - oleh karenanya menurutku menjadi setara dengan AlHadist

Ababil kemudian Alay (7)
bagaimana tak dibilang ABABIL - klo acara DDM - Dialog Dosen dan Mahasiswa dilakukan hanya setahun sekali - itupun dengan aura dan suasana untuk saling mencari kesalahan masing2
Mestinya kan DDM yang dilakukan dapat dimanfaatkan untuk mencari solusi bersama dalam rangka memajukan proses balajar mengajar
Yang lebih pas lagi adalah bila DDM itu dibiarkan mengalir setiap saat - nggak perlu formal2an - bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun selama komunikasi itu dapat diterapkan - bukankah sdh ada DPA (Dosen Pembina Akademik) yang dipersiapkn menjadi penasehat dan konsultannya mahasiswa - sementara para dosenpun seharusnya mampu selalu introspeksi - bukankah sdh ada Kepala Kelompok Pengajar sebagai saluran aspirasinya
Jadi kalau hanya urusan materi kuliah yang gak sesuai silabus pembahasannya harus menunggu DDM yang setahun sekali - itu namanya ALAY

Tidak ada komentar:

Posting Komentar