Selasa, 15 November 2011

mengapa nasibku begini

mengapa nasibku begini (1)
apakah karena di Laul Mahfud telah ditetapkan kalau di POLINEMA akan ada sebuah Program Studi Teknik Informatika - yang aku ditakdirkan sebagai Ketuanya - sepertinya Alloh telah menata hati dan pikiran teman2 agar aku terpilih secara mayoritas
inilah ibadahku - aku tidak hanya harus bertanggung jawab sebagai Kepala Rumah Tangga untuk mendidik Istri dan Anak-anakku - tetapi aku juga harus bertanggung jawab sebagai Ketua Program Studi untuk mendidik Mahasiswa, Teman Dosen, dan Para Karyawan
Semoga aku amanah - karena aku tiada pernah memintanya - dan semoga aku telah cukup mempunyai keahlian untuk itu
Alloh selalu bersamaku

mengapa nasibku begini (2)
aku memang bukan termasuk golongan orang kaya - tetapi Alhamdulillah ada saja rejeki di saat kami membutuhkannya
Semoga ini adalah pelajaran Bersyukur untukku
aku memang tidak mungkin mengaku sebagai orang miskin - tetapi orang-orang disekitarku selalu saja ada yang membutuhkan bantuanku - dan itu tetap membuatku selalu prihatin - karena aku tak mampu mengatasi semuanya
Semoga ini adalah pelajaran Sabar untukku
Semoga Sabar dan Syukur ini selalu menuntun langkahku menyusuri jalan lurus
Selalu menuntun langkahku menapaki tangga menuju RidloMU

mengapa nasibku begini (3)
makanku sedikit tapi badanku gendut
semoga saja ini adalah tanda2 bahwa apapun yang selama ini aku makan adalah halalan toyiban dan barokah - sehingga semuanya jadi daging
anggapanku selama ini adalah bahwa rejeki akan ditanya dua kali lebih banyak dari urusan yang lain - yang pertama bagaimana aku mendapatkannya - dan yang kedua bagaimana aku membelanjakannya
maka aku sekuat tenaga selalu memilih rejeki yang halal secara materi dan halal pula cara memperolehnya - non judi, non riba', non korupsi, non manipulasi
demikian juga membelanjakannya - aku harus selalu bersihkan mereka dengan zakat, infaq, dan sodakoh
Semoga gendutku adalah sehatku

mengapa nasibku begini (4)
lahir di Kediri, besar di Jombang, kuliah di Surabaya, bekerja di Malang
ibu keturunan Raja Solo, Bapak keturunan Bangsawan Madura
maka setiap kali ditanya aslinya mana - aku selalu bilang INDONESIA
tetapi hikmahnya adalah : aku dapat istri putri kediri, sempat ngaji kitab kuning di beberapa pesantren saat libur, ngaji terjemah di pondok Lemkari, tapi dapet guru mursyid... dari salah satu pondok torikot di Jombang, dan saat kuliah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam
Alhamdulillah - meskipun dari SD sampe kuliah di sekolah umum terus - tapi tidak terlalu kering dari ilmu2 keislaman
Meski ngajar ilmu umum - semoga tetap mampu mewarnai tetesan kesejukan keislaman pada semua mahasiswaku


mengapa nasibku begini (5)
jadi penjaga ujian tengah semester - benar2 butuh kesabaran tinggi
apalagi aku ini dulunya kan mahasiswa kreatif - jago nyontek - jago ngelabuhi dosen : jadi segala teknik kecurangan benar2 telah aku kuasai
kini aku melihat contekan model2 kacangan - tentu saja aku pasti tahunya
langsung saja aku peringatkan secara lisan
mereka menggunakan manuver kedua - kupindahkan tempat duduknya
mereka mengeluarkan jurus terakhir - mungkin menurut mereka sudah yang tercanggih - tapi mata ini dan telinga ini seakan ikut memberitahuku
langsung kuambil lembar jawabannya - dan anaknya aku suruh keluar
semoga itu adalah pendidikan terbaik untuk mereka

mengapa nasibku begini (6)
aku ini dapat mengerti setiap maksud tersembunyi dari orang lain - baik dari gerak matanya - ekspresi wajahnya - intonasi bicaranya - pilihan kata2nya - maupun gerak kaki dan tangannya
mungkin ini yang dimaksud dengan indra keenam - Alhamdulillah ya - sesuatu
tetapi dibalik anugerah itu ternyata ada ujian kesabaran yang luar biasa sulit
ada yg minta tolong aku memberikan pelatihan gratis dg dalih pengabdian - ternyata mereka mendapat keuntungan besar dari acara itu
semoga Alloh mengganti rejekiku dari tempat lain
ada yg menyuruhku menandatangani kwitansi honor 5 juta - tapi yg dikasihkan aku cuma 1 juta - katanya utk menutup biaya2 lain yg tak berkwitansi
semoga yg kuterima halalan toyiban wabarokalloh

mengapa nasibku begini (7)
ibuku adalah guru SD - sehingga ketika aku masih berumur 3 tahun aku sudah pandai membaca koran dan majalah
ketika berumur 4,5 tahun aku sdh diajak ibukku ke sekolah - dan ikut pelajaran di klas 1 SD - ternyata aku berhasil naik kelas - dan berlanjut sampai aku menjadi lulusan terbaik di SD tersebut
SMP aku dapat penghargaan SPP gratis mulai dari klas satu sampai klas tiga - dan lulus dengan predikat BINTANG PELAJAR
SMA aku malah jadi lulusan terbaik se Jawa Timur
S1 aku lulusan tercepat - dan S2 aku Summa Cum Laude
Tapi aku merasa gak dapat apa2 - sedang ngaji sana2 sini yg gak terstruktur justru aku merasa dapat ilmu banyak
maka aku lebih ingin jadi Kyai daripada jadi Profesor

mengapa nasibku begini (8)
ketika aku bertanya pada Bapakku - mengapa aku bisa sepintar itu?
kata Bapakku itu karena Bapakku telah memprogram otakku dengan ilmu LADUNI
(yang mungkin istilahnya pak Yan Nurindra adalah Pemetaan Pola Pikir)
trus kutanya - gimana pak caranya? bapakku bilang nanti kamu akan tahu sendiri
(dan aku sekarang sudah tahu tapi gak mungkin kutulis di sini - tapi bagi yang penasaran silahkan belajar langsung ke Pak Yan Nurindra saja)
teorinya sederhana kok - mulailah dengan membaca dua doa yang tanpa syarat dan pasti langsung dikabulkan, yaitu : Istighfar dan Sholawat
semoga anak2ku semuanya juga sepintar aku - tapi yang lebih penting adalah menjadi anak2 sholeh yang mau mendoakan orang tuanya .... aamiin

mengapa nasibku begini (9)
mengapa saya lebih kepingin jadi Kyai daripada jadi Profesor
aku sendiri tak tahu jawaban persisnya
tapi pagi ini - setelah meneliti satu persatu tulisan para mahasiswaku
aku jadi sadar kalau ternyata sebagian mereka terlihat telah lebih pandai dariku
bisa jadi karena ilmu keislaman mereka jauh lebih banyak dariku
dulu aku tak sepandai mereka dalam hal menyemangati dirinya sendiri
aku memang sering mendapat predikat juara dan mendapatkan banyak penghargaan - tapi aku tak sempat menyadarinya - aku sendiri tak tahu mengapa aku bisa jadi juara - menurutku yang aku kerjakan tak ada beda dengan temanku yang lain - bahkan bisa dibilang aku ini paling malas belajar di antara mereka
saat itu aku hanya terpaksa belajar bila sedang diminta ngajari teman2ku
bahkan saat itu aku tak menyadari kalau diriku ada

Tidak ada komentar:

Posting Komentar