Minggu, 01 Januari 2012

mengingat kembali amalan sunnah yang mulai pudar

mengingat kembali amalan sunnah yang mulai pudar (1)
Berkumur dan istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung sebelum berwudhu).
Ketika berwudhu, banyak orang yang tidak berkumur dan istinsyaq. Ada pula yang hanya berkumur tetapi tidak melakukan istinsyaq. Padahal dua-duanya merupakan sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Abdullah bin Zaid meriwayatkan tentang cara berwudhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, "berkumur dan istinsyaq dari satu telapak tangan. Beliau melakukan hal itu tiga kali." (HR. Al Bukhari dan Muslim)

mengingat kembali amalan sunnah yang mulai pudar (2)
Berwudhu sebelum mandi dari hadats besar.
Jarang orang memperhatikan tata cara mandi dari hadats besar menurut tuntunan sunnah. Dalam benak mereka, yang terpikir hanyalah bagaimana bisa menghilangkan hadats besar. Adapun menurut sunnah, di antaranya adalah mengawali mandi tersebut dengan berwudhu. Secara rinci cara mandi dari hadats besar menurut tuntunan Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam dijelaskan dalam hadits Aisyah Radhiallahu Anha; "Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bila mandi dari jinabat, memulai dengan mencuci kedua tapak tangannya, lalu berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat, kemudian memasukkan jari-jari beliau ke dalam air dan dengannya beliau menyelanyela akar rambutnya, lalu menyiram kepalanya dengan tiga kali cidukan dari kedua tangannya, lalu menyiram seluruh kulit (tubuhnya)." (HR. Al Bukhari)

mengingat kembali amalan sunnah yang mulai pudar (3)

manfaat shalat sunnah di rumah.
Shalat sunnah di rumah adalah tuntunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Melakukannya berarti menghidupkan dan meneladani sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
Ia lebih menjaga keikhlasan hati dari sikap riya' dan ingin dipuji orang.
Shalat sunnah di rumah dengan sendirinya mengajarkan cara sh
alat yang benar kepada anggota keluarga, terutama kepada isteri dan anak-anak.
Ibnu Umar Radhiallahu Anhuma berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: "Lakukanlah sebagian shalat-shalat (sunnah)mu di dalam rumah, dan jangan jadikan rumah-rumahmu sebagai kuburan." (HR. Al Bukhari) Aisyah Radhiallahu Anha berkata: "Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam shalat empat rakaat di rumahku sebelum shalat Zhuhur, kemudian keluar dan shalat bersama para Sahabat. Kemudian masuk (rumah lagi) lalu shalat dua rakaat. Beliau shalat Maghrib bersama para Sahabat, kemudian masuk (rumah) dan shalat (sunnah) dua rakaat. Beliau shalat Isya' bersama para Sahabat, kemudian masuk rumahku, lalu shalat (sunnah) dua rakaat." (HR. Muslim) Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata: "Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melakukan sebagian besar shalat sunnahnya di dalam rumah. Terutama ba'diyah Maghrib. Tidak ada satu riwayatpun yang mengatakan bahwa beliau pernah melakukannya di dalam masjid."

mengingat kembali amalan sunnah yang mulai pudar (4)
Mendatangi shalat dengan tenang.
Bila iqomat telah dikumandangkan, atau shalat jama'ah telah didirikan kita banyak menyaksikan orang-orang berlarian untuk mendapatkan ruku' bersama imam. Di samping jauh dari sunnah, perbuatan itu mengakibatkan pelakunya tidak bisa khusyu', dan mengganggu mereka yang sedang shalat. Untuk menanggulangi hal tersebut, hendaknya kita datang berjamaah lebih awal, yang dengan begitu kita bisa melakukan perbuatan sunnah yang lain. Shalat sunnah qabliyah, misalnya. Petunjuk cara mendatangi shalat berjamaah telah diberikan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Beliau bersabda: "Bila shalat telah didirikan, jangan mendatanginya dengan tergesa-gesa, tetapi datanglah dengan berjalan secara tenang. Apa yang kamu dapatkan maka shalatlah dan apa yang kamu ketinggalan darinya maka sempurnakanlah." (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

mengingat kembali amalan sunnah yang mulai pudar (5)
Rasulullah SAW bersabda : ”Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berdzikir, seperti ORANG YG HIDUP dan ORANG YG MATI” (HR. Bukhari)
Dzikrullah memiliki daya hidup. Menghidupkan dan menyemangati jiwa yang rapuh, melapangkan jiwa yang sempit serta membangkitkan keyakinan bagi yang mengalami kelelahan dalam menjalani kehidupan.
maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat, INGATLAH AKU DI WAKTU BERDIRI, DUDUK maupun BERBARING ….” (QS. An-Nisa : 103)
”Karena itu, INGATLAH KALIAN PADA-KU, niscaya Aku pun akan ingat pada kalian…” (QS. Al-Baqarah : 152)
”INGATLAH TUHANMU SEBANYAK-BANYAKNYA dan BERTASBIHLAH dengan memuji Tuhanmu di waktu petang dan pagi ” (QS. Ali-Imran : 41)
maka sebaiknya kita berusaha tetap selalu berDZIKIR mengingat Alloh meski kita sedang bekerja atau sedang belajar, meski sedang melihat televisi atau melihat sepakbola, apalagi bila kita sedang berkendara di jalan raya

mengingat kembali amalan sunnah yang mulai pudar (6)
makan dan minum sambil berdiri
Dari Anas dan Qatadah, Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya beliau melarang seseorang minum sambil berdiri, Qotadah berkata:”Bagaimana dengan makan?” beliau menjawab: “Itu kebih buruk lagi”. (HR.Muslim dan Turmidzi)
bersabda Nabi dari Abu Hurairah,”Jangan kalian minum sambil berdiri ! Apabila kalian lupa, maka hendaknya ia muntahkan !” (HR. Muslim)
Dr. Abdurrazzaq Al-Kailani berkata: “Minum dan makan sambil duduk, lebih sehat,lebih selamat, dan lebih sopan, karena apa yang diminum atau dimakan oleh seseorang akan berjalan pada dinding usus dengan perlahan dan lembut. Adapun minum sambil berdiri, maka ia akan menyebabkan jatuhnya cairan dengan keras ke dasar usus, menabraknya dengan keras, jika hal ini terjadi berulang-ulang dalam waktu lama maka akan menyebabkan melar dan jatuhnya usus, yang kemudian menyebabkan pernah sekali minum sambil disfungsi pencernaan. Begitu pula makan sambil berjalan, sama sekali tidak sehat, tidak sopan, tidak etis dan tidak pernah dikenal dalam Islam dan kaum muslimin.

mengingat kembali amalan sunnah yang mulai pudar (7)
Menghormati tamu
Nabi Muhammad SAW bersabda, "Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, muliakan-lah tamunya." (HR Muslim).
Dalam riwayat lain, terdapat tambahan kata, "Penyambutan terbaik diberikan sehari semalam, sedangkan waktu penyambutan (penjamuan) adalah tiga hari. Penyambutan di luar itu adalah sedekah." (HR Bukhari dari Abi Syuraih).
Para pakar hadis, seperti Ibn Hajar al-Asqalani, Imam al-Nawawi, dan juga al-Manawi, sependapat bahwa menghormati tamu tergolong adab Islam, akhlak para nabi, dan tata krama orang-orang mulia. Para ahli hukum Islam, seperti Imam Malik, Imam Syafii, dan Abu Hanifah, memandang bahwa memuliakan tamu sebagai sunah, sementara al-Laits dan Imam Ahmad melihatnya sebagai wajib.
jadi di sini kelihatan kalau bat`san seorang tamu adalah bila bertamunya kurang dari tiga hari - bila lebih dari 3x24 jam berarti bukan lagi tamu dan harus lapor RT setempat
(^_^)

mengingat kembali amalan sunnah yang mulai pudar (8)
Menyingkirkan Duri dari jalan
ketika aku melewati Struble Trap di depan masjid - aku jadi ingat beberapa sunnah berikut :
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw., beliau bersabda: "Saya melihat ada seseorang yang bersenang-senang di dalam surga karena ia memotong dahan yang berada di atas jalan di mana dahan itu mengganggu kaum muslimin".(Riwayat Muslim).
Dalam riwayat yang lain dikatakan: "Ada seseorang yang berjalan kemudian mendapatkan dahan pokok yang berada di atas jalan kemudian ia berkata: "Demi Allah, saya akan menyingkirkan dahan ini karena bisa mengganggu kaum muslimin", kemudian ia dimasukkan ke dalam surga". Dalam riwayat Bukhari dan Muslim dikatakan: "Pada suatu saat ada seseorang berjalan kemudian ia mendapatkan dahan duri di jalan itu kemudian ia menyingkirkannya, maka Allah memuji orang itu dan mengampuni dosa-dosanya”.

mengingat kembali amalan sunnah yang mulai pudar (9)
Menutupi malu sang tuan rumah
saat aku bertamu dan disuguh kopi - tiba2 ada seekor lalat hinggap di kopiku - sang tuan rumah kebingungan dan malu - maka buru2 kucelupkan sekalian lalat itu kedalam kopiku - kemudian kuangkat dan kubuang - setelah itu kopinya kuminum dengan senyum
saat itu aku teringat sunnah berikut :
Yazid meriwayatkan kepada kami, Ibnu Abî Dzi`b meriwayatkan kepada kami, dari Sa’îd bin Khâlid beliau berkata : Aku datang mengunjungi Abū Salamah dan beliau menghidangkan kepada kami bubur dan gandum, lalu seekor lalat jatuh pada makanan, namun Abū Salamah malah mencelupkan lalat itu dengan telunjuknya. Saya berkata : “Wahai paman, apa yang anda lakukan?”, beliau menjawab : “Sesungguhnya Abū Sa’îd al-Khudrî mengabarkan kepadaku dari Rasūlullâh Shallâllâhuu ‘alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda : “Sesungguhnya pada salah satu sayap lalat terdapat racun dan pada sayap lainnya obat. Apabila seekor lalat jatuh pada makanan, maka celupkanlah, karena ia akan mendahulukan mengeluarkan racun dan mengakhirkan mengeluarkan obat.”

mengingat kembali amalan sunnah yang mulai pudar (10)
saling mengucap salam
ada seorang teman bertanya : bagaimana hukumnya mengucap atau menjawab salam pada teman non muslim?
maka kukatakan bahwa Rosululloh Muhammad SAW ketika berkirim surat kepada raja-raja dunia yang bukan muslim. Surat-surat nabi itu dimulai dengan basmalah dan salam. Lengkapnya berbunyi: salamun 'alaa man ittaba'al-huda (salam kepada orang yang mengikuti petunjuk).
dahulu ada seorang yahudi yang memberi salam kepada nabi dengan ucapan: 'assaamu 'alaika ya Muhammad'. Dan kata assaamu artinya kematian. Kata ini pelesetan dari 'assalaamu 'alaikum'. Maka nabi berkata, "Kalau orang kafir mengatakan padamu assaamu 'alaikum, maka jawablah dengan wa 'alaikum."
Dan syeikh Ibnu Utsaimin mengatakan bahwa seandainya mereka memberi salam dengan lafadz yang benar seperti 'assalamu 'alaikum', maka kita wajib membalasnya dengan lafadz yang sama.

mengingat kembali amalan sunnah yang mulai pudar (11)
Sunnah2 saat senja tiba
Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Bila hari telah senja laranglah anak-anak keluar rumah, karena ketika itu setan berkeliaran. Dan bila sudah masuk sebagian waktu malam maka biarkanlah mereka. Tutuplah pintu dan sebut nama Allah, karena setan tidak dapat membuka pintu yang tertutup (dengan menyebut nama Allah). Tutup semua kendi kalian dengan menyebut nama Allah dan tutuplah bejana kalian dengan menyebut nama Allah, sekalipun dengan membentangkan sesuatu di atasnya, dan padamkan lentera kalian (ketika hendak tidur).” (HR. Al-Bukhari no. 5623 dan Muslim no. 3756)

mengingat kembali amalan sunnah yang mulai pudar (12)
Bernafas dan meniup dalam bejana
hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang untuk menghirup udara di dalam gelas (ketika minum) dan meniup di dalamnya.” (HR. At Tirmidzi)
maka sebaiknya selalu berhenti saat mau mengirup atau melepas udara nafas - sebagaimana yang dilakukan oleh Rosululloh Muhammad SAW
Dari Anas radhiallahu anhu dia berkata:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bernafas tiga kali ketika minum. Beliau bersabda, “Itu lebih melegakan, lebih bersih, dan lebih bermanfaat.” (HR. Al-Bukhari no. 5631 dan Muslim no. 2028)

mengingat kembali amalan sunnah yang mulai pudar (13)
Setia berdua bersama istri (sarimbit)
Anas mengatakan bahwa tetangga Rasulullah SAW -seorang Persia- pintar sekali membuat masakan gulai. Pada suatu hari dia membuatkan masakan gulai yang enak untuk Rasulullah SAW. Lalu dia datang menemui Rasululiah SAW untuk mengundang makan beliau. Beliau bertanya: “Bagaimana dengan ini? (maksudnya Aisyah).” Orang itu menjawab: “Tidak.” Rasulullah SAW berkata: “(Kalau begitu) aku juga tidak mau.” Orang itu kembali mengundang Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bertanya: “Bagaimana dengan ini?” Orang itu menjawab: “Tidak.” Rasulullah kembali berkata: “Kalau begitu, aku juga tidak mau.” Kemudian, orang itu kembali mengundang Rasulullah saw. dan Rasulullah saw. kembali bertanya: “Bagaimana dengan ini?” Pada yang ketiga kalinya ini orang Persia itu mengatakan: “Ya.” Akhirnya mereka bangun dan segera berangkat ke rumah laki-laki itu.” (HR Muslim)

mengingat kembali amalan sunnah yang mulai pudar (14)
Menyayangi dan menghormati istri
Diriwayatkan oleh Aisyah ra, nabi SAW adalah orang yang penyayang lagi lembut. Beliau orang yang paling lembut dan banyak menemani istrinya yang sedang mengadu atau sakit. (HR Bukhari No 4750, HR Muslim No 2770)
Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah bersabda: Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik diantara kalian ialah yang paling baik terhadap istrinya (HR.Tirmidzi, Ibnu Hibban, hadits hasan shahih).
Dari Anas, dia berkata: “Kemudian kami pergi menuju Madinah (dari Khaibar). Aku lihat Nabi SAW menyediakan tempat duduk yang empuk dari kain di belakang beliau untuk Shafiyyah. Kemudian beliau duduk di samping untanya sambil menegakkan lutut beliau dan Shafiyyah meletakkan kakinya di atas lutut beliau sehingga dia bisa menaiki unta tersebut.” (HR Bukhari)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar