Salah Kaprah (1)
Jika di negeri Asal berbuat kejelekan akan terbalas sewaktu berangkat Haji.
(tidak ada Dalil yang pasti, jika terjadi hal tersebut adalah kebetulan yg tidak dapat dihubung - hubungkan dengan sesuatu yang hanya boleh ditentukan oleh ALLAH SWT)
Jika Berada di Lokasi Haji anda berada pada lokasi yang aman dari tindak kejahatan.
(berdasar dari informasi tersebut Jemmah Haji menjadi lengah kurang perhatian terhadap apa yang ada disekitarnya, cenderung percaya bahwa dia dalam kondisi aman.)
jika anda lupa sesuatu, dan jika anda kembali tahun depanpun anda akan tetap menemukan apa yg anda tinggal dahulu di tempat yang sama
(info tersebut sangatlah tidak benar, semua lokasi akan tidak menjadi aman dan nyaman jika anda sendiri tidak menjaganya.)
bangsa Indonesia menjadi sasaran empuk para Penjahat Musim Haji, pemakaian perhiasan dan over show kekayaan masing-masing mengalahkan niat Utama berhaji.
Salah Kaprah (2)
Istilah ngabuburit berasal dari bahasa Sunda dengan akar kata “burit” yang artinya sebuah representasi waktu yang menunjukkan mulainya malam hari. Nah, sekarang istilah ngabuburit sudah dipakai oleh semua orang yang mengartikannya sebagai kegiatan mengisi waktu sampai tiba saatnya berbuka puasa.
Bahkan tren ini menjadi sebuah tradisi yang tak bisa dilepaskan dari bulan Ramadan. Beragam kegiatan dilakukan selama ngabuburit, mulai dari kegiatan positif hingga kegiatan negative.
Fenomena ngabuburit saat Ramadan sudah memasyarakat, terutama pada anak-anak muda perkotaan. Pada saat sore tiba mereka keluar rumah dengan berkendaraan motor berboncengan dengan pasangannya atau bergerombol dan mendatangi tempat-tempat ramai dengan alasan menunggu waktu buka puasa. Padahal bukan itu sebenarnya hakekat ngabuburit yang dijalani oleh masyarakat Sunda tempo dulu.
Sekadar pengetahuan, anak-anak Sunda dahulunya selalu ngabuburit di tajug atau surau. Mereka bersemangat pergi ke tajug untuk salat Maghrib berjamaah dan mengaji. Selama ngabuburit itu, mereka di*bimbing oleh ajengan (kiyai) setempat. Mereka baru akan pulang ke rumah setelah salat Isya berjamaah. Prakteknya sekarang ini, ngabuburit justru diisi dengan kegiatan tidak bermanfaat seperti menonton televisi seharian, berpacaran atau kegiatan duniawi yang bersifat hura-hura.
Salah Kaprah (3)
Penyakit “salah kaprah dalam memahami ajaran Islam” telah terjadi sejak para Sahabat Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam masih hidup. Diawali dengan kemunculan embrio sekte Khawarij yang berawal dari salah kaprah dalam menuduh kafir pada sesama muslim, lalu berlanjut ke pemberontakan dan akhirnya membunuhi kaum Muslimin yang telah mereka tuduh kafir.
Kemudian Khalîfah Ali bin Abu Thâlib radhiyallâhu'anhu mengizinkan dan mengutus Sahabat `Abdullâh bin Abbâs radhiyallâhu'anhu untuk mendatangi kaum Khawarij dan menjelaskan kesesatan mereka, sehingga akhirnya sebagian mereka kembali kepada kebenaran.
Alangkah miripnya hal ini dengan sebagian kaum Muslimin sekarang yang sibuk mengumandangkan slogan ini, lalu mulai menyematkan gelar kafir terhadap sebagian kaum Muslimin. Berawal dari mengkafirkan pemerintah, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif lalu menular sampai mengkafirkan semua orang yang mereka anggap ridha dan setuju dengan hukum-hukum “thaghût”. Akhirnya, darah mereka dianggap halal dan ditumpahkan begitu saja dengan pengeboman di negara yang notabene berpenduduk mayoritas Muslimin.
Demikianlah, salah kaprah dalam menuduh kafir membawa bencana bagi kaum Muslimin dan mencoreng wajah indah ajaran Islam, sehingga cap “terorisme” menempel secara paksa pada ajaran agama Islam yang mulia ini dan juga sebagian kaum Muslimin.
Salah Kaprah (4)
Kemarin ada yang mengatakan bahwa pria itu dilarang menangis. Tidak sepantasnya pria menangis apalagi di depan wanita. Dalam hati saya bergumam, lah ini ajaran darimana yang mengatakan pria tidak boleh menangis. Kitab mana yang mengatakan demikian? Apakah ada yang salah jika seorang pria menangis?
“Tujuh (orang) yang akan diberi naungan oleh Allâh pada naungan-Nya di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. ......(di antaranya): Seorang laki-laki yang menyebut Allâh di tempat yang sepi sehingga kedua matanya meneteskan air mata”. (HR. al-Bukhâri, no. 660; Muslim, no. 1031)
“Tidaklah ada satu hari pun yang lebih berat bagi para Sahabat selain hari itu.
Mereka menutupi kepala mereka sambil menangis sesenggukan”.
(HR. Muslim, no. 2359)
Hadits ini menunjukkan anjuran menangis karena takut terhadap siksa Allâh Ta’ala dan tidak memperbanyak tertawa, karena banyak tertawa menunjukkan kelalaian dan kerasnya hati.
Lihatlah para Sahabat Nabi radhiyallâhu'anhum, begitu mudahnya mereka tersentuh oleh nasehat! Tidak sebagaimana kebanyakan orang di zaman ini. Memang, mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya, paling banyak pemahaman agamanya, paling cepat menyambut ajaran agama. Mereka adalah Salafus Shâlih yang mulia, maka selayaknya kita meneladani mereka.
Salah Kaprah (5)
Hari ini banyak kudengar orang2 yang menghakimi kalau peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di masjid2 adalah bid'ah dan haram untuk menghadirinya - untuk itu cobalah perhatikan ayat2 A-Qur'an dan Sunnah di bawah ini :
Allah merayakan hari kelahiran para Nabi Nya
• Firman Allah : “(Isa berkata dari dalam perut ibunya) Salam sejahtera atasku, di hari kelahiranku, dan hari aku wafat, dan hari aku dibangkitkan” (QS Maryam 33)
• Firman Allah : “Salam Sejahtera dari kami (untuk Yahya as) dihari kelahirannya, dan hari wafatnya dan hari ia dibangkitkan” (QS Maryam 15)
Rasulullah saw memuliakan hari kelahiran beliau saw
Ketika beliau saw ditanya mengenai puasa di hari senin, beliau saw menjawab : “Itu adalah hari kelahiranku, dan hari aku dibangkitkan” (Shahih Muslim hadits no.1162). dari hadits ini sebagian saudara2 kita mengatakan boleh merayakan maulid Nabi saw asal dg puasa.
Kasih sayang Allah atas kafir yg gembira atas kelahiran Nabi saw
Diriwayatkan bahwa Abbas bin Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam mimpinya, dan Abbas bertanya padanya : “bagaimana keadaanmu?”, abu lahab menjawab : “di neraka, Cuma diringankan siksaku setiap senin karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah karena gembiraku atas kelahiran Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.4813)
Rasulullah saw memperbolehkan Syair pujian di masjid
Hassan bin Tsabit ra membaca syair di Masjid Nabawiy yg lalu ditegur oleh Umar ra, lalu Hassan berkata : “aku sudah baca syair nasyidah disini dihadapan orang yg lebih mulia dari engkau wahai Umar (yaitu Nabi saw), lalu Hassan berpaling pada Abu Hurairah ra dan berkata : “bukankah kau dengar Rasul saw menjawab syairku dg doa : wahai Allah bantulah ia dengan ruhulqudus?, maka Abu Hurairah ra berkata : “betul” (shahih Bukhari hadits no.3040, Shahih Muslim hadits no.2485)
Salah Kaprah (6)
Waktu usiaku 7 tahun, aku merasa tidak berkewajiban untuk menunaikan ibadah shalat. Karena dulu, aku percaya kalau katanya dosa anak yang belum baligh (dewasa) itu ditanggung oleh orang tua. Pasalnya, orang tua lah yang berkewajiban mendidik anaknya. Ya, sesekali aku shalat karena cinta pada orang tua. Takut kalau mereka harus masuk neraka karena aku tidak shalat. Padahal hakikatnya kalimat “dosa ditanggung oleh orang tua” itu adalah agar anak jadi rajin beribadah, karena biasanya anak-anak akan mencintai orang tuanya dan tidak mau kalau orang tuanya masuk neraka.
Menginjak usia 13 tahun, aku juga belum shalat. Lah, kan aku belum baligh. Jadi belum menanggung dosa sendiri. Masih ada orang tua yang bisa dijadikan tameng dari dosa-dosa. Lagipula di usia itu adalah saat yang paling enak untuk bermain dengan teman sebaya. Bermain sepak bola, kejar-kejaran.
Di usia 17 tahun, aku tahu aku sudah menanggung dosa sendiri. Karena sudah baligh, sudah mimpi “naik ke bulan”. Sebuah istilah yang aku tidak tahu apa artinya. Tapi aku baru “naik ke bulan” selama dua tahun. Jadi dosaku masih dua tahun, masih sedikit. Jadi, umur 20 tahun nanti lah aku akan mengganti shalat yang tertinggal itu.
Di usia 20 tahun, aku mulai mempertanyakan agamaku. Aku sudah masuk kuliah dan harus kritis. Jadi aku bertanya tentang tuhan, tentang kitab suci, tentang nabi dan tentang kebenaran dari semuanya. Aku tidak mungkin shalat dalam keadaan labil. Aku harus menemukan jati diriku.
Di usia 24 tahun, aku selesai kuliah. Agamaku telah mulai kuyakini. Tapi kini aku tengah sibuk mencari kerja. Jadi aku sibuk kesana kemari. Mencari lowongan, menyiapkan berkas lamaran. Dan itu melelahkan sekali. Aku tidak memiliki waktu untuk shalat. Shalat sih sebentar saja, tapi kadang terlalu sering menginterupsi.
Di usia 25 tahun. Aku belum mendapat kerja. Aku menggugat tuhan. Aku telah berusaha, tapi aku tidak mendapatkan. Aku jadi tidak mau shalat.
Di usia 27 tahun. Aku sudah bekerja di sebuah perusahaan ternama. Posisiku juga lumayan. Tapi, sibuknya bukan main. Sebentar-sebentar HP berdering. Lagi pula aku tengah pedekate dengan seorang gadis pujaan. Dengan seabrek kesibukan itu, mana sempat aku shalat.
Usiaku beranjak 30 ketika anak pertamaku lahir. Duh senangnya, karirku juga makin mapan. Namun, kesibukan makin merajai. Aku harus mengejar setiap kesempatan untuk masa depan keluargaku. Pertumbuhan anakku juga menyita perhatian yang besar, aku juga harus menyekolahkan anakku ke sekolah umum dan agama agar kelak ia berguna bagi bangsa dan agamanya.
Di usia 35, anak keduaku lahir. Dia wanita, cantik sekali. Bahkan sering aku memandikan dan menggantikan popoknya. Hidupku serasa lengkap sekali. Tapi, biaya hidup makin meningkat. Orang tuaku juga sudah mulai sakit-sakitan dan butuh biaya berobat. Aku harus makin rajin bekerja untuk menafkahi mereka. Sholat masih bisa kumulai di usia 40 nanti, pikirku.
Di usia 40, entah kenapa anakku tak seperti yang kuharapkan. Aku tak menyangka mereka bisa senakal itu. Bahkan anak pertamaku pernah tertangkap karena menghisap daun ganja. Daun surga katanya. Aku tak bisa konsentrasi untuk shalat. Ada saja yang membuat aku tak pernah melakukan ibadah utama itu.
45 tahun kujalani. Aku semakin lemah, tak sekuat dulu. Batuk sesekali mengeluarkan darah. Istriku mulai rajin berdandan, sayangnya dia berdandan saat keluar rumah saja. Di rumah, wajahnya tak pernah dipupur bedak sedikitpun. Aku merutuk, dosa apa yang telah aku lakukan hingga hidupku jadi begini?
Usiaku menginjak 55, aku berpikir kalau usia 60 nanti adalah waktu yang tepat untuk memulai shalat. Saat aku sudah pensiun dan aku akan tinggal di rumah saja. Saat itu adalah saat yang tepat sekali untuk menghabiskan hari tua dan beribadah sepenuhnya kepada tuhan.
Tapi aku sudah lupa bagaimana cara shalat. Aku lupa bacaannya. Aduh, aku harus mendatangkan seorang ustadz ke rumah seminggu 3 kali. Tapi aku tak kuat lagi untuk mengingat. Ingatanku tak setajam ketika dulu aku kerap juara lomba di kampus atau sekolah. Atau ketika manajer perusahaan salut pada tingkat kecerdasanku. Kali ini semua telah pudar. Jadi, apa yang diajarkan ustadz itu sering membal dari telingaku. Lagipula, badanku sudah tak begitu kuat untuk duduk lama-lama.
Kalau tidak salah, kali itu usiaku 59 tahun ketika istriku minta cerai. Alasannya tak lagi jelas kuingat, salah satunya katanya karena lututku tak kencang lagi bergoyang. Lucu ya? Entah kenapa juga dulu aku menikahinya, umurnya 20 tahun lebih muda dariku. Dia memang istri keduaku. Istri pertamaku dulu hilang, dibawa sahabatku.
Tak sampai usiaku 60, aku masih berusaha untuk shalat. Tapi serangan jantung membuat rumah mewahku ramai. Mereka terlihat menangis. Bahkan anak pertamaku yang membangkrutkan satu perusahaan keluargaku terlihat begitu tertekan. Ada kata yang sepertinya ingin dia ucap.
Salah Kaprah (7)
Kaum feminis bilang susah jadi wanita ISLAM.
1. Wanita auratnya lebih susah dijaga berbanding lelaki.
(Padahal dalam Islam wanita memang harus menutup seluruh tubuhnya kecuali raut muka dan telapak tangan sementara lelaki hanya wajib menutup antara pusar sampai lutut, tetapi tahukan anda bahwa dibalik itu ada hikmah bahwa wanita diberi anugerah untuk lebih mampu menahan nafsu syahwatnya?)
2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
(Pasahal dalam Islam itu wanita diibaratkan sebagai perhiasan dunia yang terindah, itulah sebabnya dibalik hikmah ijin pada suami apabila mau keluar adalah justru karena suami punya tanggung jawab untuk menjaga istrinya)
3. Wanita saksinya kurang berbanding lelaki.
(Hal ini adalah dikarenakan kodrat wanita yang memang diciptakan sebagai makhluk yang berperasaan halus, sehingga akan mempunyai kecenderungan untuk lebih memaafkan, dan tentu saja hal yang demikian ini mengurangi azas keadilan.)
4. Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki.
(Dalam Islam wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah bahwa harta itu akan menjadi miliknya dan tidak perlu diserahkan kepada suami? Sementara suami apabila menerima warisan ia wajib juga menggunakan hartanya untuk istri dan anak-anaknya ?)
5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
(Bukankah justru lelaki yang wajib menanggung nafkah istri beserta anak2nya)
6. Wanita wajib taat kpd suaminya tetapi suami tak perlu taat pd isterinya.
(Dalam Islam memang wanita diwajibkan taat kepada suami, tetapi tahukah anda bahwa lelaki wajib taat kepada Ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada Bapaknya ?)
7. Talak terletak di tgn suami dan bukan isteri.
(Dalam Islam, istilah "Talak" adalah putusan cerai dari seorang suami - sedang bila inisiatif berasal dari pihak istri namanya adalah khulu')
8. Wanita kurang dlm beribadat karena masalah haid dan nifas yg tak ada pada lelaki.
(Bukankah itu berarti wanita mendapatkan keistimewaan karena dibebaskan dari kewajiban di setiap bulannya? bahkan disetiap jum'atpun wanita juga tidak diwajibkan sholat jum'at?)
Salah Kaprah (8)
Menyikapi berbagai isu soal munculnya gerakan Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 (NII KW 9) masyarakat Indonesia pada umumnya segan untuk membahasnya. Pasalnya, berbagai kemelut datang akan gerakan NII ini. Pencucian otak yang sedang merebak beberapa waktu terakhir menjadi sorotan banyak orang, terutama para orang tua bila salah satu sanak keluarganya menjadi korban.
Menurut pengakuan salah seorang mantan menteri Peningkatan Produksi NII KW 9, Imam Supriyanto (tempointeraktif.com 2/5), rekrutmen para anggota NII mempunyai dampak buruk bagi kelangsungan hidupnya sebab mereka notabene akan menjadi teroris. Namun kini, mantan Menteri Produksi NII KW 9 telah keluar dari NII.
Dalam Islam sendiri, tidak ada perintah akan mewajibkan umatnya untuk melakukan hijrah dengan dalih menyebarluaskan agama Islam itu sendiri. Di zaman modern seperti sekarang ini, ladang dakwah bisa ditempuh dengan cara apapun. Mulai dari da’watu bil lisan (dakwah dengan lisan), da’watu bil kitabah (dakwah dengan tulisan), dll.
Negara Indonesia ini tidak perlu terpecah atau berubah menjadi Negara Islam Indonesia yang berdiri sendiri, sebab sejauh ini Syariat Islam yang tertera pada hukum Indonesia tidak ada yang menyimpang atau pun keluar dari hukum Islam itu sendiri.
Ada ungkapan yang menyebutkan bahwa : cinta tanah air sebagian dari iman. Tidak perlu bertanya lagi apa maksud ungkapan tersebut, yang jelas sebuah negara yang berdiri dan mempunyai masyarakat yang mayoritas Islam, negara tersebut sudah bisa digolongkan menjadi negara Islam.
Salah Kaprah (9)
Salah kaprah yg saya maksud adalah mengidentikkan Islam dan Arab Saudi, demikian juga sebaliknya. Dengan kata lain, semua yg ada dan terjadi di Arab Saudi merupakan representasi/cerminan dari Islam. Sebaliknya, jika ingin melihat Islam maka lihatlah Arab Saudi.
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. al-Hujuraat : 13)
Rasululloh SAW sendiri sudah menyatakan hal ini,“Wahai manusia, sesungguhnya ayahmu satu dan sesungguhnya ibumu satu. Ketahuilah, tidak ada keunggulan orang Arab atas non-Arab, tidak pula non-Arab atas orang Arab, serta tidak pula orang berkulit hitam atas orang yang berkulit merah. Yang membedakan adalah taqwanya.” (HR. Ahmad)
Memang benar, Islam (dan agama2 lain) berasal dari Jazirah Arab. Mengapa banyak para Nabi dan Rasul diturunkan di sana, sementara nyaris tidak pernah kita dengar ada Nabi dan Rasul berasal dari Cina, Jepang atau daerah lainnya di dunia? Terus terang, saya belum punya jawaban yg memuaskan, kecuali bahwa kejahiliyah`n bangsa Arab sudah sedemikian besar (dan membahayakan?) sehingga ALLOH SWT perlu mengutus Nabi dan Rasul di sana.
Orang2 yg fanatik mungkin TIDAK TAHU bahwa tidak ada ayat Al Qur’an ataupun Hadits yg menyatakan orang Arab itu suci! Lha wong Abu Jahal dan Abu Lahab juga orang Arab, toh mereka jelas sekali kekafirannya serta permusuhannya terhadap Islam.
Intinya, orang Arab itu sama halnya seperti manusia pada umumnya. Ada yg baik, ada yg jahat. Ada yg menyumbangkan hartanya untuk kemanusiaan, imam Masjidil Haram, penghafal Al Qur’an, dan kebajikan2 lainnya. Ada juga yg koruptor, pemerkosa, pembunuh, pelaku zina di Puncak (Indonesia) dan pelaku kejahatan lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar